Hidup Didalam Naungan Al Qur'an

Faktor-Faktor Kesuksesan

8:45
8:46
 8:47

 “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. 
Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (QS. 8: 45-46) 

Inilah faktor-faktor kemenangan yang hakiki: 
  • tsabat (teguh pendirian) saat berhadapan dengan musuh,
  • berhubungan dengan Allah melalui dzikir, 
  • taat kepada Allah dan Rasul-Nya, 
  • menghindari perselisihan dan perpecahan, 
  • sabar menghadapi beban berat perang, 
  • menghindari sikap angkuh, riya’, dan sewenang-wenang.
Tsabat (teguh) adalah awal perjalanan menuju kemenangan. Kelompok yang menang adalah yang paling teguh. Tahukah orang-orang mukmin bahwa musuh mereka menghadapi kesulitan yang lebih berat daripada apa yang mereka hadapi, dan bahwa merasakan sakit seperti mereka, tetapi musuh mereka tidak mengharapkan sesuatu dari Allah seperti yang orang-orang mukmin harapkan? Jadi, musuh Islam tidak punya motivasi harapan kepada Allah yang bisa meneguhkan pendirian dan hati mereka! Seandainya orang-orang mukmin bisa teguh barang sebentar, maka musuh mereka pasti patah semangat lalu kalah. Apa yang bisa menggoyahkan kaki orang-orang mukmin saat mereka yakin akan memperoleh salah satu dari dua kebaikan: syahid atau kemenangan? Sementara itu, musuh mereka hanya menginginkan kehidupan dunia. Mereka sangat tamak terhadap kehidupan dunia, tidak memiliki harapan terhadap kehidupan sesudahnya. Kehidupan mereka hanyalah di dunia.

Banyak berdzikir kepada Allah saat berhadapan dengan musuh merupakan arahan abadi bagi setiap mukmin. Ia juga merupakan ajaran tetap yang mengakar di hati kelompok mukmin. Al-Qur’an telah menceritakannya dalam sejarah umat Muslim dalam parade iman sepanjang sejarah.
Diantara kisah yang dituturkan al-Qur’an adalah ucapan para penyihir Fira’un ketika hati mereka menyerah kepada iman secara tiba-tiba. Para penyihir itu berkata:
Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami.’ (Mereka berdoa), ‘Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” (al-A’raf : 26)
Begitu pula kisah orang-orang mukmin minoritas dari kalangan Bani Israil saat mereka menghadapi Jalut dan pasukannya:
“Tatkala mereka nampak oleh Jalut dan tenteranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdoa, ‘Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir’” (al-Baqarah: 250)
Begitu pula kisah tentang kelompok-kelompok mukmin sepanjang sejarah saat menghadapi perang:
“Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan alah, dan tidak lesu, dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (Ali Imran: 146-147).
Ajaran ini telah mengakar di dalam jiwa jama‘ah muslim, sehingga inilah yang menjadi watak mereka saat menghadapi musuh. Sesudah itu, Allah mengisahkan kelompok yang mendapatkan luka-luka dalam perang Uhud. Ketika mereka diajak berperang pada hari kedua, maka ajaran ini hadir dalam jiwa mereka:
“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,’ maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah sebaik-baiknya Pelindung’” (Ali Imran (3): 173)
Dzikir kepada Allah saat berhadapan dengan musuh memainkan banyak fungsi. Ia menghubungkan umat Islam dengan kekuatan yang tidak terkalahkan dan melahirkan keyakinan kepada Allah yang menolong para kekasih-Nya. Pada saat yang sama, dzikir dapat menghadirkan hakikat perang, motivasi, dan tujuannya ke dalam hati, yaitu perang demi Allah, untuk menetapkan uluhiyah-Nya di muka bumi, dan mengusir para thaghut yang mencuri uluhiyah ini. Jadi, perang tersebut bertujuan agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, bukan untuk kejayaan pribadi atau bangsa. Selain itu, perintah tersebut menegaskan kewajiban dzikir kepada Allah di saat-saat paling kritis dan situasi paling sulit. Semua itu merupakan inspirasi yang memiliki arti penting dalam perang. Semua inspirasi tersebut dapat diwujudkan oleh ajaran Robbani ini.

Sedangkan tujuan taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah agar orang-orang mukmin turun ke kancah perang dalam keadaan berserah diri kepada Allah, sehingga berbagai penyebab perselisihan dapat dicegah dengan ketaatan tersebut:
“...Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu...” (46)
Manusia tidak saling berbantah kecuali ketika kepemimpinan dan komando terbagi-bagi, dan pada saat hawa nafsu menguasai pendapat dan pikiran. Apabila manusia berserah diri kepada Allah dan patuh kepada Rasul-Nya, maka penyebab pertama dan utama perselisihan dapat dihilangkan—meskipun sudut pandang terhadap masalah yang dihadapi berbeda-beda. Karena hal yang memicu perselisihan bukan perbedaan sudut pandang, melainkan hawa nafsu yang mengagitasi tiap orang untuk memaksakan sudut pandangnya meskipun ia mengetahui mana yang benar!
Hal yang menyebabkan percekcokan adalah meletakkan ego dan kebenaran dalam satu timbangan, lalu memenangkan ego di atas kebenaran! Dari sini Allah memberi ajaran untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam perang. Ini adalah bagian dari proses kontrol yang harus dilakukan dalam perang. Itulah ketaatan terhadap pimpinan tertinggi di dalam perang. Dari sini muncul perintah untuk menaati panglima yang memimpin perang. Ketaatan tersebut adalah ketaatan dari hati yang mendalam, bukan sebatas ketaatan struktural di tengah pasukan yang tidak berjihad karena Allah, dimana loyalitas kepada pemimpin tidak didasarkan loyalitas kepada Allah sama sekali. Perbedaan antara keduanya sangat jauh. 

Sabar adalah sifat yang harus dimiliki untuk memasuki pertempuran, pertempuran apapun, baik di medan mental atau di medan perang.
“Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (46)
Ma’iyah (kesertaan) Allah inilah yang menjadi penjamin kemenangan, kesuksesan dan keberuntungan bagi orang-orang yang sabar..
Kini tinggal ajaran terakhir:
Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (47)
Ajaran terakhir ini berfungsi untuk menjaga kelompok mukmin dari sifat angkuh saat berangkat perang, sewenang-wenang, takjub dengan kekuatannya sendiri, serta dari menggunakan nikmat kekuatan yang diberikan Allah secara tidak sesuai dengan kehendak Allah. Sesungguhnya kelompok mukmin berangkat berperang di jalan Allah untuk meneguhkan uluhiyah Allah dalam kehidupan manusia, dan menetapkan ‘ubudiyah para hamba kepada Allah semata. Kelompok mukmin berperang untuk menghancurkan para thaghut yang mencuri hak Allah dengan memperbudak hamba-hamba-Nya, yang mempraktikkan uluhiyah di muka bumi dengan menjalankan hakimiyah (otoritas legislasi) tanpa izin dan aturan dari Allah. Mereka keluar untuk mendeklarasikan kemerdekaan manusia di muka bumi dari setiap penghambaan kepada selain Allah, yang melecehkan kemanusiaan dan kehormatan manusia. Mereka keluar untuk melindungi kehormatan, kemuliaan, dan kemerdekaan manusia, bukan untuk menguasai manusia, memperbudak mereka, dan congkak dengan nikmat kekuatan dengan menggunakannya secara negatif. Mereka kelompok yang berangkat berperang bukan untuk mengejar kepentingan pribadi, sehingga kemenangan yang mereka capai semata-mata untuk merealisasikan taat kepada Allah dengan memenuhi perintah-Nya untuk berjihad, menegakkan manhaj-Nya dalam kehidupan, meninggikan kalimat-Nya di muka bumi, dan mencari karunia dan ridha-Nya sesudah itu. Kalau ada harta pampasan sesudah perang, maka itu merupakan karunia Allah.
Gambaran keberangkatan pasukan dengan sikap angkuh, riya’ kepada manusia, dan untuk menghalangi manusia dari jalan Allah itu terbayang di pelupuk mata kelompok Muslim. Mereka pernah melihatnya saat kaum Quraisy berangkat berperang. Sebagaimana gambaran tentang akibat sikap tersebut juga terlihat pada apa yang telah menimpa orang-orang Quraisy yang keluar pada hari itu dengan bangga dan sombong untuk menantang Allah dan Rasul-Nya. Di akhir babak, mereka kembali dengan membawa kehinaan, kegagalan, dan kekalahan. Allah swt mengingatkan kelompok Muslim dengan sesuatu yang faktual, yang memiliki kesan dan inspirasinya tersendiri:
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.”(47)
Sikap angkuh, riya’, dan menghalangi manusia dari jalan Allah, seluruhnya jelas terlihat pada ucapan Abu Jahal. Delegasi Abu sufyan menemui Abu Jahal—setelah Abu Sufyan berhasil membawa kabur kafilah dagang hingga selamat dari hadangan kaum Muslimin—untuk memintanya menarik mundur pasukan, karena mereka tidak perlu lagi memerangi Muhammad dan para sahabatnya. Orang-orang Quraisy berangkat perang dengan membawa wanita-wanita penghibur dan alat musik untuk bernyanyi, dan menyembelih unta di setiap persinggahan. Lalu Abu Jahal berkata: “Tidak, demi Allah, kami tidak akan pulang sebelum tiba di Badar. Lalu kami akan tinggal di sana selama tiga hari, menyembelih binatang, makan-makan, minum khamer, dan menikmati nyanyian para wanita penghibur, hingga bangsa Arab takut kepada kami selama-selamanya.”
Ketika utusan itu menyampaikan jawaban Abu Jahal kepada Abu Sufyan, maka Abu sufyan berkata: “Duhai kaumku! Ini adalah perbuatan ‘Umar bin Hisyam (Abu Jahal). Ia tidak mau pulang karena ia memimpin pasukan dan berbuat sewenang-wenang, padahal kesewenang-wenangan itu pembawa kerugian dan kesengsaraan. Bila Muhammad mengalahkan pasukan itu, maka hinalah kita.”
Firasat Abu Sufyan ternyata benar. Muhammad saw berhasil mengalahkan pasukan itu, dan orang-orang musyrik menjadi hina lantaran sikap angkuh, riya’, dan menghalangi manusia dari jalan Allah. Badar menjadi tempat hancurnya kekuatan mereka:
“Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (47)
Tidak ada sesuatu dari mereka yang luput dari-Nya. Tidak ada satu pun kekuatan mereka yang membuat-Nya tidak berdaya. Dan Dia meliputi mereka dan apa yang mereka kerjakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar